| Generasi para sahabat dan tiga kurun setelah mereka adalah masa-masa terbaik dari umat ini, umat Rasulullah saw. Merekalah generasi yang tidak diragukan lagi telah membuat kita berada dalam nikmatnya Islam dan iman. Mereka dijuluki sebagai generasi al-Qur'an yang unik dan tiada bandingannya sepanjang masa sampai hari kiamat. bahkan tidak tanggung-tanggung sebagian besar mereka telah dijanjikan dengan surga oleh Rasulullah saw. Tapi, yang jadi pertanyaan kita sekarang adalah, pernahkah terbayang oleh kita semua, kaum muslimin yang hidup di zaman sekarang ini, akan bernasib baik seperti mereka? Mungkin tidak pernah terbayangkan sedikitpun. Jelas, karena mayoritas kita tidak berpikiran untuk menggali ajaran Islam yang bersumber dari mata air jejak sholeh mereka. Khusus dalam hal beramal dan interaksi dengan al-Qur'an misalnya. Lihat bagaimana seorang Abdullah bin Mas'ud dengan gagah beraninya tampil di depan para gembong dan preman kaum Quraisy hanya untuk mendemostrasikan lantunan indah dan lembut ayat-ayat Allah, sementara telinga-telinga mereka sangat pekak dengan bacaannya itu. Perhatikan, bagaimana sosok Umar bin Khattab tiba-tiba lemas, lunglai dan pingsan setelah mendengar ayat-ayat Azab (QS ath-Thur: 1-7) dari seseorang penghuni rumah saat Umar berpatroli memeriksa keadaan rakyatnya. Lihat bagaimana pula, Rasulullah saw yang sudi berlama-lama berdiri dalam shalat panjang tahajjudnya yang menyebabkan kedua kaki beliau bengkak lantaran kelamaan berdiri dihibur sentuhan bacaan ayat-ayat Allah yang beliau baca.. Simak, bagaimana Imam Syafi'i rahimahullah yang sanggup mengkhatamkan al-Qur'an hingga 60 kali setiap bulan Ramadhan suci. Memperhatikan riwayat hidup mereka, nampaknya amal-amal sholeh kita belumlah seberapa dibandingkan amal sholeh mereka. Padahal kita disuruh untuk menjadikan mereka sebagai Qudwah hasanah dalam beramal sholeh dan beriman. Wallahu a'lam, apa yang membuat diri kita tidak pernah tersadarkan dan bangkit kembali untuk mengikuti jejak surgawi mereka itu. Sebab bagi mereka ketaatan di dunia ini dahulu adalah 'surga dunia' sebelum memasuki dan menikmati surga akhirat nanti. Tapi mengapa, tauladan itu seakan jauh dan tidak sanggup menyadarkan diri kita. Jika diri kita tidak bisa seperti mereka, ya minimal sepertiganya laah, lalu bagaimana kita akan menentukan pilihan nasib diri kita kelak, jika disodorkan dua jalan dan dua tempat. Antara surga dan neraka!! Ya ALlah kuatkanlah diri kami untuk bisa menjadikan mereka sebagai suri tauladan kami dalam berislam dan beramal sholeh. Dan kokohkanlah kaki-kaki kami untuk teguh di jalan-Mu. Aamiin |
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe


No comments:
Post a Comment