CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Tuesday, June 2, 2009

[kcb-milis] Masihkah Emak yang Menyambutku di Pintu Rumah?




Masihkah Emak yang Menyambutku di Pintu Rumah?

Oleh: Abu Aufa

15/12/2005 13:24 WIB

Entahlah...
Ini telah kali ke berapa aku tak berada kembali di sampingnya. Tak ada balasan pelukan yang hangat dan nyaman setelah punggung tangannya yang keriput kucium di hari ulang tahunnya. Tak ada pula sentuhan kasih dari pipi yang banyak digurat garis ketuaan.

Saat ini, juga tak terdengar canda dan gelak tawa seperti dulu kami sekeluarga berkumpul bersama. Duduk mengelilingi sebuah meja yang di atasnya tersaji hidangan ala kadarnya. Tumpeng nasi kuning yang dihiasi telur dadar, tempe dan kacang goreng, irisan mentimun serta beberapa potong ayam bakar. Setelah usai berdo'a lalu bersama menikmatinya. Namun, itu semua terjadi ketika aku masih berada di tengah keluarga. Kini aku dan Emak telah jauh terpisah oleh bentangan jarak yang ada.

Alhamdulillah...
Allah Ta'ala masih memberikan amanah berupa usia kepada Emak. Diberikannya kesempatan untuk menghimpun pahala serta menjalankan fitrah yang ada pada dirinya. Niscaya, begitu pula yang dimiliki seluruh ibunda di seluruh dunia. Bahkan ringkih dan renta tak akan mampu menghalangi cinta mereka kepada anak-anaknya.

Memang, keikhlasan ibunda bagaikan luasnya samudera. Mereka rela melepas setiap anak kandungnya walau harus jauh terpisah. Pun, begitu juga Emak. Tak masalah baginya, ketika di hari ulang tahun aku kembali tak berada di tengah keluarga. Apalagi ia tahu bahwa aku sedang menuntut ilmu di Negeri Sakura, yang membuatnya senantiasa bangga. Tercapai sudah harapan agar setiap anak haruslah lebih pintar dari orang tua.

Namun...
Adakah pula seorang ibunda yang tak bahagia jika anak yang dicintai selalu berada di dekatnya? Aku yakin, begitu pula dengan Emak. Jauh di lubuk hati Emak dan para ibunda, pasti lebih mengharapkan kehadiran anaknya di tengah keluarga. Tak hanya hadir ketika di hari ulang tahun saja, tetapi di setiap saat. Terlebih, ketika penyakit uzur dan tua yang memang tak ada obatnya telah menghampiri mereka. Di tengah semakin ketidakberdayaan, hanya anaklah harapan satu-satunya.

Rasanya perasaan itu sama seperti saat kita kecil dan juga tak berdaya. Dengan selimut kasih sayang, didekapnya dengan cinta sang buah hati yang baru saja menyapa dunia dengan lengking tangisannya. Ikhlas diberikannya air susu beraroma surga, tangan yang selalu sigap menyuapkan makanan, bahkan mata enggan terpejam ketika yang dibelai justru telah terlelap dalam buaian. Merekalah yang tak kenal lelah menjaga dan membesarkan darah dagingnya. Pantaslah karenanya cinta yang deras mengalir diganjar dengan surga.

Aaah...
Entah mengapa, semakin lama aku meninggalkan Emak bagaikan menumpuk rasa bersalah. Emak-lah yang dulu pernah beruah air mata ketika mengantar aku di Bandara Sukarno-Hatta. Emak juga yang bersuka cita ketika aku dan keluarga bisa pulang kampung dalam beberapa kesempatan yang ada. Emak pula yang selalu kuharapkan dari bola matanya jelas terpancar pendar cinta.

Ketika semakin berbilang usia Emak, seketika itu pula pertanyaan yang sama selalu menyeruak,

"Ketika aku pulang nanti, masihkah Emak yang menyambutku di pintu rumah?"

Mak...
Ketika tangan ini menulis, sesungguhnya jiwa dan raga bagaikan ingin terbang mengangkasa. Lalu tersungkur, luruhkan rindu dalam pelukan kasih dan cinta. Hapuskanlah rindu anakmu ini, Mak. Rindu yang telah terkuras dalam jutaan butir air mata.

Mak...
Saat aku pulang, kuingin pula engkau yang pertama kali merengkuh tubuh anakmu. Anak yang sering sibuk hingga melalaikan do'a terhatur untukmu. Anak yang tak pernah membahagiakanmu, Mak. Bahkan anakmu ini tak pernah bisa lagi menghadiri hari ulang tahunmu.

Mak...
Benarkah, ketika seorang anak rindu kepada orang tuanya, sesungguhnya orang tuanyalah yang lebih merindukan kehadiran anak itu di sisinya?

Percayalah, aku nanti pulang, Mak. Pasti aku akan pulang. Walau gelar, uang atau kemewahan tak mampu kupersembahkan, biarkanlah di sisa usiamu dapat kucurahkan kasih sayang.

Mak...
Saat aku pulang nanti, sambutlah aku di pintu rumah. Lalu baluri dengan do'a dan senandung pengantar tidur. Atau, maukah engkau yang mendengar kisah pengalamanku? Dan kemudian tidurlah di pangkuan anakmu, seperti yang sering engkau lakukan padaku ketika masa kecilku dulu.

Selamat ulang tahun, Mak. Semoga Allah selalu menyayangimu.

ALlahu a'lamu bish-shawaab.

-Abu Aufa-
(untuk Emak yang berulang tahun 15 Desember)

 

Terima Kasih
Hadi Maulana

 Email/YM/FB/FSmhadisona@yahoo.co.id

...Jika cinta ini tak kunjung bertasbih, Semoga masih ada kasih setabah kasih Aisha dan cinta sedalam cinta Maria Girgis.



Lebih bersih, Lebih baik, Lebih cepat - Yahoo! Mail: Kini tanpa iklan. Rasakan bedanya!

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Search

Start Searching

Find everything

you're looking for.

Yahoo! Groups

Mental Health Zone

Schizophrenia groups

Find support

Yahoo! Groups

Cat Group

Join a group for

people who love cats

.

__,_._,___

No comments: