| Kamis, 21 Mei 2009 adalah hari libur nasional. Aku menghabiskan waktu bersama istri dan anakku 'azzam di rumah, Sekaligus istirahat karena aku sedang sakit flu berat. Sore harinya ada seorang sahabat datang ke rumahku. Fulan namanya. Dia datang ke rumah ku untuk menceritakan masalah yang sedang dihadapinya (curaht lah istilah orang jaman sekarang). Ternyata dia sedang di mabuk cinta. Juga mengalami dinamika cinta. Ini bukan kali pertama aku menjadi tempat untuk menampung semua curhatan tentang cinta. Entah mengapa banyak orang yang curhat kepadaku tentang cinta, mereka berharap mendapat sedikit jalan keluar untuk masalanya. Namanya Fulan usianya sekitar 23-24 tahun. Anak terakhir. Dia sudah punya keinginan untuk menyempurnakan 1/2 dien. Dari segi ma'isya juga lumayan. Tapi dia sudah terlanjur bermain api cinta terlebih dahulu. Sebelum menikmati cinta yang suci. Begini ceritanya. Dia suka sama seorang akhwat. Katakanlah namanya A. Belum kenal. Hanya sekedar tau. Lalu dia coba mendekati teman A tersebut yang kebetulan dia kenal. Namanya B. Si Fulan bermaksud menyampaikan niat sucinya untuk ta'aruf lebih dekat kepada si A lewat si B. Dan si B yang sudah menganggap Fulan sebagai kakaknya pun bersedia membantu sekuat tenaga. Lalu terjadilah komunikasi yang intens antara Fulan dengan si B. Singkat cerita. Setelah sekian lama si B berhasil menyampaikan niat si fulan kepada si A. Tapi jawaban yang di dapat malah tidak seperti yang di harapkan si fulan. Ternyata si A menolaknya dengan alasan BELUM SIAP MAU KULIAH DULU. Lalu disampaikanlah kepada pesan si A kepada si Fulan. Mendengar jawaban itu si fulan pun tidak merasa kecewa. Hanya saja tidak habis fikir dengan alasan menolaknya. Lalu tidak jadilah si Fulan ta'aruf dengan si A. Dan dengan otomatis komunikasi yang terjalin antara fulan dan si B pun berakhir. Dan Fulan berterima kasih atas bantuan si B. Tapi ternyata si B menyimpan harapan kepada si Fulan. Yang tadinya hanya di anggap kakak. Ternyata benih-benih cinta tu mulai tumbuh. Nah masalah itulah yang fulan ceritakan kepada ku. Aku hampir tertawa dan sekaligus empati mendengarnya. Tertawa karena begitu bodohnya si Fulan menggunakan wanita lain untuk mendapatkan wanita. Empati karena begitu kasihan ia karena menderita apa yang namanya penyakit cinta. Cinta yang seharusnya membuat berkah dan bahagia. Tapi malah bikin pusing si pecinta. Dan mengenai masalah itu, ternyata dengan seringnya fulan beriteraksi dengan si B maka juga tumbuh benih - benih cinta pada si fulan. Dan Akhirnya si B meminta kepastian pada si fulan. Itulah yang membuat hatinya tidak menentu. Bila kita berani bermain api. Maka siap-siaplah pasti ada yang terbakar. Hanya ada 2 pilihan ketika kita sudah terlanjur bermain api. Pertama matikan api itu dengan air. Artinya mohon maaf pada si B lalu jelaskan baik-baik bahwa bukan itu yang dimaksud. Dan cobalah untuk tidak memberikan harapan lagi. Serta hindari komunikasi yang intens. Lalu bertobatlah. Kedua manfaatkan api itu agar menjadi sesuatu yang berguna, misal menjadi penerang dalam gelapnya kehidupanmu. Artinya coba untuk melangkah ke jalan yang Allah ridhai, yaitu dengan menikah. Apalagi si B & si Fulan sudah saling mencintai. Wallahu'alam. ============ Sekedar berbagi HIKMAH "Sungguh dalam perjalanan kehidupan setiap hamba. terdapat Hikmah yang bisa di petik " |
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe


No comments:
Post a Comment