CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Friday, December 12, 2008

Bls: Bls: [ketika_cinta_bertasbih] Kaum Dhuafa sekarang Tak Butuh Daging, mereka Butuh Uang.. (?)

Wa 'alaikum salam wa rohmatullohi wa barokatuh.

Bismillah. Allahumma sholli 'ala Muhammad wa 'ala aali Muhammad.
Cukup menarik apa yg disampaikan oleh Teh Ilmi hingga saya pun ternyata benar2 'tertarik' untuk ikut berkontribusi dalam diskusi yg dijiwai semangat kebaikan ini. ^^

Saya mencoba menanggapi beberapa poin yg disampaikan Teh Ilmi. Namun, bukan berarti saya lbh tau dari Teh Ilmi krn kita sama2 belajar.

Sebelum ke inti diskusi : "Konversi daging qurban ke uang", ada bbrp hal yg mungkin perlu dikoreksi.
1. Jadi, istilahnya mungkin bukan "zakat daging kurban", Teh Ilmi. ^^
Karena zakat dan qurban adalah dua jenis ibadah yg berbeda. Zakat merupakan Rukun Islam ke-3 yg ditunaikan untuk jenis harta/ternak yg telah mencapai nishab tertentu & dibagikannya hanya kpd 8 ashnaf  yg berhak menerima zakat. Sedangkan Qurban adalah ibadah dg menyembelih hewan dg syarat2 tertentu pada tgl 10 - 13 Dzulhijjah dan dibagikannya tidak hanya kpd 8 ashnaf/gol. sbgmn zakat.
2. Kemudian tentang ibadah2 tsb mungkin istilahnya bukan "pembenaran di Al Quran", Teh Ilmi. Tapi, "sesuatu yang benar dari Al Quran". ^^

Ke inti diskusi :

1. Saya setuju dg Mbak Anzani Rahma bahwa berqurban bukan lah sekedar budaya, tapi merupakan ibadah yg disyari'atkan dalam Islam. Sebuah ibadah yg mengandung dimensi sosial, yg tata cara dan ketentuannya telah diatur.

2. Saya juga setuju dg Teh Ilmi bahwa Islam adalah agama yg indah, dinamis, responsif, dan fleksibel. Keindahan Islam bs kita lihat salah satunya pada tuntunan Islam agar tdk memukul pada wajah, tdk membunuh wanita dan anak2, serta tdk merusak tanaman & bangunan ketika berjihad. Kedinamisan Islam bs kita saksikan bahwa sejak Islam diturunkan sampai sekarang tdk pernah ketinggalan zaman & tdk pernah ada amandemen Al Qur'an & As Sunnah. ^^ Responsivitas Islam bs kita lihat dalam ajarannya agar menyantuni anak yatim & fakir miskin, menganjurkan itsar (mendahulukan sdrnya), perhatian dunia Islam terhadap Palestine, dsb. Fleksibilitas Islam bs kita temui misalnya ketika kita tdk bs shalat sambil berdiri maka boleh dg duduk, ketika tdk bs duduk boleh dg berbaring, keetika tdk menemukan air wudhu bs dg tayammum.

3. Tentang "konversi tsb", Teh Ilmi.
Setau saya syari'at qurban adalah dg menyembelih hewan qurban dan hal ini tdk bs digantikan dg yg lainnya, baik itu uang maupun sembako. Karena setiap ibadah memiliki filosofi & sasaran (target) yg berbeda. Misalnya : sholat wajib 5 waktu tdk bs digantikan dg berdzikir atau membaca Al Quran sehari penuh.
Ibadah qurban tdk sama dg zakat fitrah (zakatul fithri) yg bs kita bayar kpd panitia zakat dlm bentuk uang (namun panitia membagikannya dlm bentuk makanan pokok).

4. Saya juga sedikit "risih" dan "garuk-garuk kepala" Teh. ^^
Untuk mengatasi permasalahan umat tsb. Kita bisa memberdayakan risalah Islam -salah satunya- dari sisi ZAKAT-INFAQ-SHODAQOH yang dikelola secara Profesional dan Amanah. Profesional di sini maksudnya kita bs menyalurkannya tepat sasaran dan dalam bentuk yg produktif sehingga bs membangkitkan ekonomi & pribadi umat. Amanah, maksudnya insya Allah sdh paham.
Andaikan daging qurban bs dikonversi -dibagikan- ke bentuk uang, tentunya hal tsb sama saja dg memberikan sesuatu yg konsumtif kpd mereka dan tdk bs (sulit) dikembangkan produktivitasnya. Lagi pula sasarannya bukan hanya dibagikan kpd kaum dhuafa. Orang kaya (muslim) maupun orang nonmuslim pun boleh diberi bagian dari qurban ini. Meski untuk pembagian kpd nonmuslim msh ada bbrp perbedaan pendapat di kalangan 'ulama.

Wallahu a'lam.

Demikian tanggapan saya Teh Ilmi, yg tentunya masih jauh dari kesempurnaan. Namanya juga sharing... hehe ^^
Kita sama-sama belajar.
Semoga bermanfaat.

Buat tmn2 anggota milis, temanya menarik nih. Saya yakin diantara tmn2 ada yg ahli ekonomi. Mungkin bs bergabung dlm sharing ini. Kita bs diskusi tentang kebangkitan ekonomi dunia Islam. Mumpung Ekonomi Liberal lg ambruk. Jadi, ada peluang emas untuk mendakwahkan Ekonomi Islam kpd dunia. ^^

"Ya Allah, karuniakanlah kpd kami ilmu yg bermanfaat dan kami berlindung kpd-Mu dari ilmu yg tdk bermanfaat."

Tetap Semangat!

Jakarta, 13 Desember 2008
Sabtu Siang - 15 Dzulhijjah 1429 H




Dari: anzani rahma
Terkirim: Kamis, 11 Desember, 2008 16:25:32

kalau mau merubah sesuatu, jangan perintah Allah SWT yang diubah, tapi sistem ekonomi kita.
saya memang tidak pakar di ekonomi islam, hanya yang ingin saya garis bawahi dari tulisan dibawah adalah :
berkurban daging bukan hanya sekedar budaya, namun itu adalah perintah Allah SWT.

Kalau di negara ini syari'ah sudah ditetapkan sebagai undang-undang, maka saya yakin hal seperti dibawah tidak akan terjadi.



Dari: ilmi insani <insanilmi@yahoo. co.id>
Kepada: kcb <ketika_cinta_ bertasbih@ yahoogroups. com>
Terkirim: Rabu, 10 Desember, 2008 21:49:50
Topik: [ketika_cinta_ bertasbih] Kaum Dhuafa sekarang Tak Butuh Daging, mereka Butuh Uang.. (?)

Assalamualaikum wr. wb

Miris sekali, kemarin saya melihat berita di tv,yang menginformasikan tentang kaum dhuafa yang menjual kembali daging hasil pemberian zakat kurban kepadanya, untuk mendapatkan uang. Alasan mereka beragam. Ada yang menjual daging kurbannya tersebut karena demi mendapatkan uang untuk menambah ongkos pulang ke kampung halamannya, Ada yang menjual agar dapat membayarkan hutang, dan masih ada lagi alasan-alasan lain yang intinya untuk mendapatkan uang.
Terdapat calo yang membeli daging kurban kaum dhuafa tersebut dengan harga yang sangat murah. Kalau biasanya daging dijual di pasar dengan harga Rp. 60.000 / kg, para calo tersebut membeli daging kurban para dhuafa dengan harga kurang lebih Rp. 15.000 / bungkus. Satu bungkusan tersebut bisa sampai kira-kira 1,5kg. Tawar menawar pun terjadi diantara si dhuafa dan calo. Namun biasanya si dhuafa akan merelakan berapapun harga yang diinginkan calo karena rasa pasrah atau perasaan "toh, saya tidak beli, jadi lumayan lah.."
Salah seorang calo diwawancarai oleh reporter dan menjelaskan bahwa ia sudah menekuni bidang ini (jual-beli daging kurban) selama 2 tahun terakhir.

Saya pribadi yang baru tau akan hal ini, merasa risih dengan kenyataan yang terjadi. Namun jika dipikir-pikir, memang mungkin bukan salah para kaum dhuafa yang menjual kembali daging kurbannya, karena pada kenyataannya mereka memang saat ini lebih membutuhkan uang daripada daging tersebut.
Saya bisa membayangkan, mungkn bagi beberapa orang, betapa repotnya mereka harus mengolah lagi bahan daging mentah tersebut untuk jadi makanan. Belum lagi mereka harus menyediakan bumbu-bumbu untuk meracik masakan, menyediakan bahan bakar untuk memasak, dan lain-lain. Sedangkan hal-hal tersebut sangat sulit untuk mereka penuhi. Sekarang, jika
kaum dhuafa yang diberi daging kurban tersebut adalah sepasang tua renta, yang kemungkinan besar jika memakan daging malah akan memicu penyakit-penyakit dalam, bagaimana kegiatan berkurban daging dapat disamaratakan manfaatnya.
Calo pembeli daging pun tidak kebetulan muncul begitu saja apabila tidak ada "pelanggan"- nya (ya para dhuafa tadi)

Pertanyaan saya, melihat kondisi masyarakat dhuafa muslim saat ini, apakah tidak ada hal-hal yang "perlu diubah"/"diinovasik an" dalam hal zakat daging kurban, jika kasusnya seperti di atas. Hasrat utama para pekurban adalah, selain beribadah kepada Allah SWT, juga untuk membantu kaum dhuafa secara ikhlas agar ikut merasakan nikmatnya menyantap hidangan daging, mentransfer rezeki lewat daging dll. Namun niat tulus tersebut tidak sampai, karena ya itu tadi..kebutuhan mereka thd uang jauh lebih besar daripada daging. Dan kita tidak dapat menyalahkan mereka 100 persen, karena setelah diberi, semua hak atas daging berada di tangan mereka. Entah selanjutnya dibagaimanakan, terserah mereka.

Saya berpikir, Apakah mungkin ada semacam konversi, bagaimana jika daging kurban kita konversi ke uang? mungkin terlalu ekstrim, dan sebenarnya nominal berapapun yang kita beri tak akan pernah mencukupi mereka, jika mereka tidak terus mengimbanginya dengan kerja keras mandiri. Dan kita bertanggung jawab apabila tertanam pada otak mereka perasaan kemiskinan dan papa yang berpikir pasti-nanti- ada-yang- nyumbang- saya.
Bagaimana dengan sembako? bahan-bahan pokok yang dibutuhkan dalam waktu dekat setidaknya dapat meringankan beban untuk beberapa hari ke depan.

Saya menyadari benar ini jauh dari apa yang diperintahkan Allah dalam AlQuran bahwa berkurbanlah daging (sapi/kambing) dll, namun saya hanya ingin mendapatkan sebuah pengertian dan mungkin pembenaran dalam diri saya bahwa Islam adalah dinamis, Islam agama yang sangat responsif, fleksibel untuk perubahan-perubahan dan penyesuaian- penyesuaian era pada sesuatu yang positif (tidak keluar prinsip Islam).
Saya yakin banyak sekali cendikia Islam dan teman-teman di milist KCB ini yang jauh lebih paham tentang hal ini dan memiliki cara pandang berbeda. Saya ingin sharing, sekaligus belajar dari anda-anda yang menanggapi ini (^_^) bagaimana kita menghadapi fenomena-fenomena Islam khususnya masalah ini. Kita kan harus menjadi umat yang cerdas, yang memaknai sesuatu, yang
menghargai proses, dan berorientasi hasil. Jika hasil belum maksimal saya rasa ada 1001 cara manusia berpikir untuk mencapai suatu tujuan yang sama. Saya pernah mendengar bahwa mengapa terus mempertahankan budaya jika budaya tersebut tidak berdampak positif bagi orang-orang yang membudayakannya, apalagi ketika budaya tersebut sudah salah kaprah.

Kembali, maksud saya disini,  bukan ingin merevisi apa yang sudah menjadi pembenaran di AlQuran, namun bagaimana solusi-solusi cerdas yang dapat umat Islam lakukan untuk menangani
contoh kasus di atas. Menurut saya, tidak benar mencari keuntungan ekstra dari pemberian, apalagi kalau melihat contoh kasus di atas. Namun dapat disadari bahwa memang tidak semua kaum dhuafa melakukan hal tersebut.

Mohon Maaf sekali lagi, kalau ada kata atau penyampaian yang kurang berkenan. semata-mata
saya hanya ingin belajar. saya ingin mengetahui apa sebenarnya esensi dari kegiatan berkurban yang selama ini kita lakukan. Apakah sudah tepat sasaran dan tujuan. Saya sangat menyanjung sebuah keteraturan dan kepatuhan, dan saya masih yakin jika aturan dan kepatuhan dijalankan
dengan optimal maka akan berdampak positif bagi pribadi yang menjalankannya.
Apakah anda-anda jg merasakan rasa sedikit "risih"  atau sedikit "garuk-garuk kepala" seperti saya :) atas hal ini, atau justru anda membenarkan 100% apa yg terjadi di atas dengan pola pikir positif yang anda bangun?. Makasih banyak sharingnya.. :)

Wassalam..

.



Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang!
Membuat tempat chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Y! Messenger

All together now

Host a free online

conference on IM.

John McEnroe

on Yahoo! Groups

Join him for the

10 Day Challenge.

Y! Groups blog

The place to go

to stay informed

on Groups news!

.

__,_._,___

No comments: