| Sebuah jawaban atas tulisan kritikus film eric sasono. sumber : tempointeraktif Oleh AKMAL NASERY BASRAL Dalam tulisan berjudul Inspirasi Muslim Baru (Koran Tempo, 2 Juli 2009), Eric Sasono menyoroti dua film yang dibuat berdasarkan novel laris karya Habiburrahman El-Shirazy, Ayat-ayat Cinta (AAC) dan Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Dalam pandangan redaktur Rumahfilm.org ini, kedua film tersebut memiliki tautan erat dengan keberartian seorang muslim Indonesia kontemporer melalui dua hal: penyaluran hasrat cinta dan gelar kesarjanaan. Lebih jauh lagi Eric melihat adanya tiga preposisi yang disodorkan kedua film di atas untuk memuluskan penyaluran hasrat itu yakni (1) mengasingkan diri ke Mesir sehingga tak perlu terlibat perbincangan masalah dalam negeri kontemporer, (2) lingkungan yang memungkinkan berjalannya logika-logika teks agama Islam (nash) menjadi argumen utama, dan (3) idealisasi karakter utama yang menjadi basis bagi kepahlawanan sang tokoh.. Sebagai konklusi, Eric menyimpulkan lahirnya model keislaman (lebih tepatnya film Islam) yang steril dari problem sosial politik dalam negeri dan tertutup dari diskursus di luar nash. Untuk memperkuat kesimpulan ini, Eric membandingkan AAC dan KCB dengan tiga film karya Asrul Sani Titian Serambut Dibelah Tujuh (1959/1982), Al-Kautsar (1977) dan Nada dan Dakwah (1990). "Institusi penyaluran hasrat cinta tidak dipersoalkan pada ketiga film itu," tulis Eric. Saya kira ada sejumlah bingkai cara pandang kurang pas yang digunakan Eric. Pertama, konstatasi bahwa AAC dan KCB sebagai representasi dari "inspirasi muslim baru" di tahun 2000-an ini adalah kesimpulan yang tergesa-gesa. Sebab pada rentang waktu bersamaan munculnya kedua film itu (Januari-Juni 2009), beredar juga film Bukan Cinta Biasa (BCB) tentang seorang remaja putri yang mampu membuat ayahnya, seorang rocker paruh baya, untuk kembali hidup tertib (berhenti minum alkohol, kembali shalat dan belajar mengaji). Sebelum itu bahkan ada film Nagabonar Jadi 2 (NJ2), di mana pada salah satu adegan terlihat salah seorang tokoh (diperankan VJ MTV, Mike Muliadro) untuk izin shalat pada saat sedang berada di sebuah kelab dugem. Jika Eric menolak memasukkan BCB dan NJ2 ke dalam bentuk representasi "muslim baru" yang lebih lentur dalam mengadaptasi gaya hidup Barat, saya khawatir justru Eric sendiri yang terjebak dalam tipifikasi bahwa "muslim baru" haruslah memiliki sejumlah tanda fisik seperti yang bertebaran pada AAC dan KCB. Kedua, ada perpindahan paradigma yang mungkin tak disadari Eric dalam menakar AAC dan KCB secara proporsional. Bandingkan, umpamanya, dengan The English Patient. Untuk membahas novel The English Patient, kita akan menyoroti kiprah Michael Ondaatje. Tapi saat membahas filmnya, itu menjadi tanggung jawab Anthony Minghella sebagai sutradara. AAC dan KCB sebagai film — meski keduanya berasal dari karya Habiburrahman El-Shirazy — sudah merupakan tanggung jawab Hanung Bramantyo dan Chaerul Umam, yang memiliki hak tafsir eksklusif sebagai sutradara (director's call) dalam memilih konsep estetik dan artistik tertentu. Akan lebih menarik jika dibandingkan bagaimana sutradara yang berasal dari dua generasi yang berbeda (bisa juga disebutkan dari "atmosfer keislaman yang berbeda") melakukan interpretasi subyektif mereka terhadap teks yang dibuat El-Shirazy, ketimbang menganggap tak ada perbedaan signifikan dalam pendekatan yang dilakukan kedua sutradara dan meletakkan kedua film seolah-olah berada dalam "satu napas yang sama" seperti dilakukan Eric. Ketiga, meletakkan asumsi bahwa kedua film itu merupakan "model keislaman yang steril dari problem sosial politik dalam negeri" juga sepenuhnya tak pas. Bukankah motif dan modus operandi Azzam sebagai mahasiswa Al-Azhar yang menghabiskan sembilan tahun waktu kuliah sambil berjualan tempe, merupakan representasi dari adanya problem sosial politik dalam negeri yang sangat laten. Itu membuat mahasiswa dari lapisan akar rumput seperti Azzam tak bisa buru-buru menyelesaikan kuliahnya meski selalu digambarkan sebagai mahasiswa pandai. Eric tampaknya alpa melakukan metode read between the lines terhadap latar belakang lamanya pendidikan Azzam di Mesir, hal yang justru digunakannya dalam membandingkan kedua film ini dengan film-film Asrul Sani. Saya khawatir, dengan framing semacam itu, bisa jadi film sebagus Le Grand Voyage (Ismael Ferroukhi, 2004) pun akan dilihat sebagai eskapisme dari problem sosial-politis muslim di Prancis. Sebab, film itu tak mengartikulasikan beratnya hidup sebagai minoritas di sebuah negara sekuler, karena Ferroukhi memilih menyoroti (sepanjang tubuh film) perjalanan spiritual seorang imigran Maroko tua yang ditemani anaknya yang hedonis ke Tanah Suci. Keempat, entah disengaja atau tidak, Eric justru melupakan satu perbandingan penting antara KCB dengan film-film Indonesia lain yang mengambil setting di luar negeri. Sebelum ini, selalu beredar kritik dari komunitas film bahwa setting luar negeri dalam film-film Indonesia, nyaris hanya tempelan karena hampir tak adanya interaksi para tokoh dalam film itu dengan masyarakat tempat setting film itu dibuat. KCB, di pihak lain, justru bisa terbebas dari "penyakit massal" itu, karena setting Mesir (dengan sejumlah kota dan pelabuhan), justru merupakan bagian integral dari film. Dengan empat pertimbangan itu, tak berarti KCB (juga AAC) sudah menjadi "film ideal" dari kebangkitan film Islami (apapun definisi yang ingin dipakai) di Indonesia. Sejumlah kritik terhadap kerangka infrastruktur dan suprastruktur film tetap bisa (dan harus terus) digunakan. Tapi tak semua film harus ditakar dari teropong politik. |
New Email names for you!
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
Hurry before someone else does!
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

No comments:
Post a Comment