Friday, August 7, 2009

[kcb-milis] [CR&R : Cerita Ringan & Real] Nasehat dari Gunung Kelud

 

ini ada CR&R tentang kehidupan di desa, penulis adalah teman SMA saya, sama-sama wong ndeso  :)
Semoga bermanfaat :)
 
 
Nasehat dari Gunung Kelud
[Munib Asrofi]

Hari itu, Sabtu 10 Februari 1990, ada keceriaan yang luar biasa pada diri saya.. Entah kenapa, tiap hari Sabtu selalu merupakan hari yang istimewa bagi saya. Sudah banyak rencana petualangan indah yang saya susun bersama sahabat saya, Nanang Nurfata, untuk mengisi acara hari minggu esok harinya. Pantai prigi yang permai dengan ikan bakarnya yang lezat dan para gadis manis yang berwisata disana sudah terbayang di pelupuk mata. Pelajaran di kelas 2A1-1 di hari Sabtu ini sungguh sulit terukir di otak saya yang memang selalu menjadi lebih bebal di tiap akhir pekan. Yang ada adalah bayangan indah berpetualang di hari Minggu bersama sahabat.

Perjalanan pulang sekolah siang itu sangat saya nikmati dengan bersepeda balap pelan-pelan, agar bisa lebih santai dan nyaman. Semua yang ada di sepanjang perjalanan tampak sedap dipandang, hari yang panas itu, perut lapar dan rasa haus yang mencekik leher itu, jarak yang lumayan jauh itu yang biasanya terasa sebagai beban berat tiap kali pulang sekolah, siang itu sungguh enak untuk dirasakan dan dilihat. Mungkin seperti itulah rasanya kalau kita pandai bersyukur dan menikmati apa yang ada disekitar kita secara apa adanya. Pemandangan yang bersahaja, beban pikiran, beban pekerjaan dan sebagainya akan terasa seperti sebuah pemandangan ataupun nyanyian elok yang menyenangkan hati. Tidak kalah indahnya seperti orang yang baru pertama kali melihat lukisan Monalisa karya Da Vinci, begitu takjub dan terpesona. Sebaliknya, semua hal yang sebenarnya indah dan mewah, akan terasa hambar, pahit, menyakitkan dan menyedihkan jika tidak pandai kita menikmati dan
mensyukurinya.

Jam 12.00 siang itu sepeda balap yang saya kayuh tanpa terasa sudah meluncur sampai di desa Bendiljati Kulon, berarti sebentar lagi masuk ke kampung halaman saya di desa Bendiljati Wetan. Semangat saya tiba-tiba berkobar lagi, persis api unggun yang kehabisan kayu, tiba-tiba diberi lagi kayu bakar yang kering, apinya akan langsung menyala terang. Bayangan masakan Ibu, sayur daun singkong, ikan asin goreng yang gurih itu, sambal terasi, tempe goreng ..... ah, mereka menari-nari di depan perut saya yang sudah keroncongan. Dengan penuh semangat saya pompa tenaga saya lewat kedua kaki saya dengan lebih kuat lagi. Sepeda balap yang sudah usang itu meluncur makin cepat membelah jalanan berdebu tak beraspal itu dengan penuh semangat.

Tiba-tiba mata saya terasa perih, seperti ada debu atau butiran pasir kecil yang masuk ke mata, tapi ini lebih perih dari biasanya. Sambil tangan kanan saya tetap memegang stir sepeda, tangan kiri saya mengucek-ucek kedua mata saya untuk mengusir kelilipan di mata dan rasa perih itu, sembuh dan terasa nyaman lagi. Saya meneruskan perjalanan dengan lebih semangat, batas desa Bendiljati Wetan sudah terlihat di depan saya, kebetulan rumah saya hanya beberapa ratus meter dari batas desa itu, jadi rumah saya sudah dekat, kurang dari satu kilo meter lagi. Kembali mata saya kelilipan lagi, kali ini lebih parah rasanya dibanding kelilipan yang pertama tadi. Sekali lagi saya berusaha keras untuk mengusir kelilipan yang mengganjal perih itu, sukses. Kelilipan kedua ini agak aneh bagi saya, karena sesudah itu, mata saya menjadi makin sering kelilipan. Saya belum tahu apa yang terjadi saat itu, tapi hanya untuk mencapai rumah saya yang tinggal beberapa ratus meter
saja, saya harus memicingkan mata menghindari butiran-butiran debu kasar atau pasir halus yang entah datang dari mana dan sepertinya sengaja ditumpahkan dari langit.

Sampai di depan rumah, karena agak bingung dan panik dengan pasir aneh yang turun dari langit itu, setelah menjatuhkan sepeda sekenanya di halaman rumah, saya teriak sekencang-kencangny a ke Bapak.

"Paaaakkkk !!!"
"Hujaaannn !!!"
"Tapi aneh, kok hujannya pasir, bukan air ?"

Bapak saya, laki-laki bijak dan perkasa itu, yang siang itu sedang makan siang dengan lauk tempe goreng, sayur daun singkong dan sambal terasi kesukaannya, tampak bingung dan berlari-lari keluar rumah karena mendengar anak sulungnya ini berteriak-teriak sepulang sekolah. Bapak berjalan ke halaman rumah, menadahkan telapak tangannya keatas seperti orang merasakan adanya hujan gerimis.

"Nib, cepat kamu angkat jemuran, cari triplek terus kamu tutup sumur kita. Bapak akan mencari dan menjemput adik-adikmu, mereka sedang main di rumah Bude Sekar, sepertinya Gunung Kelud meletus !"

Setengah berlari, Bapak menuju ke rumah tetangga kami, Bude Sekar, untuk menjemput adik-adik.

"Gunung Kelud meletus ?,"
"Aneh, seumur hidup saya belum pernah lihat Gunung Kelud itu meletus, kenapa sekarang meletus ?" gumam saya dalam hati dengan penuh keheranan.

Saya berlari ke belakang rumah untuk mengangkat jemuran pakaian yang tadi pagi dicuci Ibu saya, ternyata ibu sudah ada disana dan sedang mengangkat jemuran itu.

"Nib, cari tutup sumur, kamu pakai apa saja, yang penting sumur kita jangan sampai kemasukan hujan pasir ini, agar kita tetap bisa minum !" Ibu saya memberikan perintah yang senada dengan bapak. Saya segera mengambil triplek, yang sebelumnya akan digunakan untuk mengganti triplek pintu kamar saya yang memang sudah berlubang-lubang itu, dan menutup sumur agar tidak kemasukan pasir.

Begitulah siang itu kami sekeluarga sibuk menyelamatkan segala sesuatu yang dirasa perlu untuk menghadapi bencana alam ini. Detik demi detik berlalu, satu jam kemudian dunia di kampung halaman saya betul-betul sudah berubah sama sekali. Semua tampak hitam pekat, gelap gulita, dengan bau belerang yang menusuk hidung, padahal waktu itu baru jam tiga sore. Entah kenapa, saya merasa asyik dan menikmati letusan Gunung Kelud ini. Saya merasa ini adalah kesempatan langka dan jarang-jarang saya alami. Belum tentu tiap bulan saya mengalami fenomena alam gunung meletus yang indah ini. Indah, karena seumur hidup saya belum pernah mengalaminya, mirip seperti fenomena gerhana matahari total tanggal 11 Juni 1983 dulu, sewaktu saya masih SD, saya begitu terpesona dan excited.

"Nib, segera sholat Ashar, setelah itu ikut Bapak ke sawah !" tiba-tiba saya mendengar perkataan bapak, seperti sebuah instruksi.

Saya bingung, dalam hati bertanya-tanya apa bapak tidak salah, Gunung Kelud sedang meletus, dunia gelap gulita dan bapak mengajak saya ke sawah. Memang ada kebiasaan yang diajarkan bapak kepada saya, yaitu harus rajin membantu orang tua ke sawah. Maklum, kami dari keluarga petani tradisional yang miskin. Sawah adalah segala-galanya bagi kami. Dari kecil, saya sudah biasa membantu orang tua saya bekerja di sawah, mencangkul, menyiangi rumput, panen padi, memberi pupuk tanaman di sawah dll. Tapi kalau ke sawah dalam situasi seperti ini, saya belum pernah mengalaminya.

Saya tentu saja keberatan dengan rencana bapak untuk ke sawah disaat hujan pasir dan debu akibat letusan Gunung Kelud ini. Saya sedang menikmati detik demi detik indahnya letusan gunung ini. Cuaca yang tiba-tiba gelap di siang hari, ayam-ayam yang tiba-tiba berkotek kebingungan, suasana asyik berkumpul di ruang keluarga rumah bapak saya yang sederhana tapi hangat, semuanya terlalu asyik untuk ditinggalkan, apalagi harus kerja di sawah, sangat tidak asyik, bahkan mungkin menyebalkan.

Saya mengenakan baju lengan panjang, celana panjang dan memakai topi dari plastik kresek yang saya lubangi di posisi kedua mata, mulut dan hidung. Hidung saya mengenakan penutup dari kaos bekas yang saya robek agar berfungsi seperti masker, dan mengenakan caping lebar dari bambu. Bapak mengenakan pakaian yang hampir sama dengan yang saya kenakan, hanya bedanya bapak membawa dua buah sapu lidi yang masih panjang. Saya tidak tahu untuk apa bapak membawa sapu lidi itu, setahu saya yang pernah saya alami, kalau ke sawah ya membawa cangkul, solet atau timba untuk menyiram tanaman, lha ini masa ke sawah membawa sapu lidi ? apa mau nyapu di sawah ?

"Nib, kamu bawa sebuah sapu lidi ini. Kamu pukul batang-batang tanaman padi ini dengan lembut agar pasir yang menempel di daun dan batangnya jatuh ke bawah, awas jangan sampai batang padinya patah. Harus pelan-pelan dan lembut !" bapak memberikan instruksi kepada saya, kemudian memberikan contoh cara kerjanya.

"Astaghfirullah, memukul batang padi di sawah dengan lembut dan pelan ?" saya hendak protes, tapi tercekat di tenggorokan. Dari dulu saya tidak pernah berani melawan kehendak bapak. Di sawah punya bapak ini, meskipun tidak terlalu luas, tapi entah ada berapa ratus ribu batang tanaman padi, mungkin berjuta-juta batang malah. Kalau semuanya harus dipukul dengan pelan dan lembut agar pasir dan debu berjatuhan ke bawah, terus selesainya kapan ?

Terbayanglah nanti betapa penderitaan akan segera menyergap saya, selesainya kapan ? Alangkah capeknya memukul jutaan batang padi itu dengan lembut agar tidak patah dengan posisi badan setengah membungkuk. Disaat semua tetangga sesama petani sedang asyik bercengkerama di rumah sederhana dan hangat mereka bersama keluarga, saya harus bekerja keras di sawah. Bapak sungguh keterlaluan, omel saya dalam hati.

Hari itu, saya sungguh merasa menderita, lelah, capek, malas dan marah kepada bapak, semuanya campur aduk menjadi satu. Saya tidak bisa menikmati pekerjaan yang bapak berikan kepada saya kali ini. Mungkin beginilah rasanya kalau kita mengerjakan sesuatu dengan tidak ikhlas, bukannya pekerjaan menjadi kelar, yang ada malah semuanya menjadi sebuah penderitaan.

Malam itu, saya mengerjakan tugas itu bersama bapak dengan sangat terpaksa, hanya karena takut kepada bapak saja. Kami hanya pulang ke rumah untuk sholat dan makan, setelah itu kembali ke sawah lagi untuk meneruskan pekerjaan yang mirip sebuah siksaan bagi saya itu. Punggung saya sudah seperti patah rasanya, otot tangan dan kaki saya seperti kejang, mata berkunang-kunang, bibir kering, dada seperti meledak karena menahan marah kepada bapak saya. Jam tepat menunjukkan jam tiga pagi, ketika akhirnya saya dan bapak berhasil menyelesaikan pekerjaan yang menyiksa ini.

Setelah sholat subuh dan sarapan pagi, akhirnya saya tertidur hampir sehari penuh, mungkin karena kecapekan dan kurang tidur tadi malam. Bayangan berpetualang ke Pantai Prigi bersama Nanang sudah menguap entah kemana. Yang pertama terlihat di kamar saya pada saat saya bangun tidur siang itu adalah bapak yang sudah mengenakan baju dinas ke sawah, komplet dengan masker dari kain sobekan kaos dan caping bambu lebarnya. Bapak tampaknya sudah menunggu saya dari tadi.

"Ayo, kita ke sawah lagi !" ajak bapak dengan penuh semangat.

"Mati aku !" teriak saya dalam hati.

Dengan penuh kesabaran, ketabahan dan kepasrahan yang luar biasa, saya mengikuti bapak berjalan ke sawah melalui pematang. Sepanjang jalan menuju sawah, saya sangat terkejut, semuanya berubah, sungguh buruk pemandangan siang ini. Sepertinya bumi hanya dipenuhi oleh satu warna yang seragam, serba abu-abu. Tidak ada warna lain, daun yang biasanya hijau, sawah yang biasanya hijau segar agak kekuning-kuningan siang ini semua tampak abu-abu. Bumi menjadi kusam tanpa cahaya, entah kemana keindahan alam yang biasanya menghiasi kampung halaman saya ini. Sampai di sawah bapak saya, saya lihat bapak tampak tersenyum.

"Lihatlah hasil kerja keras kita tadi malam. Bandingkan dengan sawah-sawah petani lain disekitar sawah kita ini !" tangan bapak menunjuk ke petak sawah keluarga kami dan menunjuk ke sawah milik petani lainnya.

Saya ikuti jari telunjuk bapak dan saya tertegun melihat hamparan sawah yang berisi tanaman padi milik warga kampung halaman saya itu. Semua padi yang mulai berbuah itu tampak rubuh, tertidur seperti habis disetrika oleh setrika raksasa, rata dengan tanah.. Bayangan gagal panen sudah jelas terlihat di pelupuk mata, artinya bencana bagi para petani. Hanya satu petak sawah yang tanaman padinya masih berdiri tegak, segar hijau kekuning-kuningan, sawah milik bapak saya, sawah keluarga kami, keluarga petani miskin yang semalaman bekerja keras memeras keringat untuk menjaga tanaman padi itu tidak rubuh tertimbun hujan pasir letusan Gunung Kelud. Tanaman padi di sawah bapak itu seperti menari-nari indah ditiup angin. Seperti oase, seperti kolam air yang jernih dan segar ditengah gurun pasir. Tanaman padi di sawah bapak yang sudah berbuah dan mulai menguning itu, seperti menawarkan kesejahteraan bagi keluarga kami, paling tidak untuk tahun ini.

"Bapak tahu kamu capek dan lelah, tapi Bapak mau kamu mengerti, inilah buah dari kerja keras semalam. Kalau kamu kerja keras, Insya Allah buahnya akan kamu dapat." Petuah bijak bapak saya, lelaki terhebat di dunia ini, masih terngiang di telinga saya sampai sekarang. Bapak, I love you full !

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Search

Try a shortcut

Get local weather

faster.

Yahoo! Groups

Auto Enthusiast Zone

Discover Car Groups

Auto Enthusiast Zone

Hollywood kids

in the spotlight

Their moms

share secrets

.

__,_._,___

No comments:

Post a Comment