.....dari milis sebelah !
CINTA TAK SEMPAT BERTASBIH
Obrolan Mengenai Film "Ketika Cinta Bertasbih" Jilid 1
"Ed, Saya tidak mampu melanjutkan membaca novel-novel karangan Habiburrahman El-Shirazy yang berlatar belakang Cairo, Mesir. Saya tak kuasa menahan gemuruh rindu mengenang masa lalu di Negeri Seribu Menara itu. Negeri yang menyebalkan, namun juga merindukan..
(Kamil Husein, alumni Universitas Al-Azhar Cairo dan Dosen Universitas Serang Raya)
Sindrom Cairo
Entah betul atau tidak, sejak film "Ayat-ayat Cinta" beredar di Tanah Air pada bulan Maret 2008 yang lalu, nama Cairo semakin banyak disebut oleh masyarakat Indonesia. Di antara mereka ada yang tahu Cairo dari menonton film tersebut, atau yang hanya sekedar mendengar cerita lewat obrolan kawannya.
Selain "Ayat-ayat Cinta", beberapa film lain juga menyebut-nyebut nama Cairo sebagai sebuah kota tujuan menuntut ilmu, salah satunya yang dirilis pada bulan Februari 2009 yang lalu adalah film "Perempuan Berkalung Sorban". Dalam film tersebut, tokoh Khudori, suami Nisa (Revalina S Temat), setelah lulus Aliyah juga melanjutkan studinya di Al-Azhar, Cairo, Mesir, meskipun tidak diceritakan bagaimana kehidupannya di sana. Bertambah ramailah decak kagum masyarakat Indonesia akan gambaran Cairo sebagai kota tujuan menuntut ilmu.
Tentu saja kekaguman itu muncul dengan asumsi bahwa produk alumni Al-Azhar sangat luar biasa, seperti Fahri dalam "Ayat-ayat Cinta", Khudori dalam "Perempuan Berkalung Sorban", dan yang "fresh from the oven" sejak 11 Juni 2009 ini adalah tokoh Azzam dalam film "Ketika Cinta Bertasbih".
Sampai di sini, saya tidak sedang mengajak para pembaca untuk menggeneralisir semua alumni Al-Azhar pasti memiliki karakter dan wawasan keilmuan seperti tokoh-tokoh di atas. Bahwa ada orang-orang seperti di atas, alhamdulillah, itulah berkah dari lingkungan Mesir yang kondusif untuk ke arah itu. Tetapi, jika kita menemukan perbedaan dari tokoh-tokoh itu, itulah sebuah kenyataan yang ada.
Membincang film "Ketika Cinta Bertasbih", biasanya kita sebagai penonton diwanti-wanti untuk tidak menyamakan antara novel dan film, sebab novel memiliki caption tersendiri yang tidak bisa diwujudkan di film, begitu juga sebaliknya. Tetapi, tentu saja setiap orang tidak dilarang untuk kembali membuka memori saat membaca novelnya yang begitu monumental. Seperti halnya kesan dari seorang kakak kelas, Kamil Husein, yang saya kutipkan di awal tulisan ini.
Suatu ketika saya bersilaturahmi di tempat kerjanya, STIE Serang (sekarang Universitas Serang Raya) di Jalan KH. Amin Jasuta dekat kawasan Brimobda Banten. Tujuan saya saat itu berkonsultasi prihal rencana saya untuk melanjutkan studi pascasarjana dengan mengambil konsentrasi Ekonomi Islam, kebetulan Kamil Husen telah mengambil studi pascasarjana konsentrasi Ekonomi Islam di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, lulus tahun 2001.
Konsultasipun selesai, dan kami terlarut dalam obrolan mengenang masa lalu di Mesir. Kamil yang lebih dulu lulus dan pulang meninggalkan Cairo tahun 1998,bertanya banyak hal tentang apa yang berubah di Cairo. "Tak banyak hal yang berubah, Ka." jawabku mengawali cerita saat itu, sampai akhirnya kami membincangkan novel karya Habiburahman El-Shirazy, dan keluarlah komentarnya seperti di atas, sebagai gambaran betapa merindunya ia akan kenangan masa lalu.
Fikih Cinta Berbalut Film
Saya tidak sempat menanyakan kepada Si Mbak penjual tiket di bioskop tentang berapa ribu penonton yang telah menyaksikan film ini, namun dilihat dari jadwal pemutarannya, pihak manajemen 21 Mal Cilegon nampaknya telah memprediksi jumlah penonton akan membludak, hal ini terlihat dengan dibukanya dua studio khusus untuk pemutaran film KCB. Penontonnya pun variatif, mulai dari muda-mudi yang berpasangan, para orang tua dan keluarganya, maupun anak-anak kecil yang balita atau bawah lima-belas tahun.
Membincang film KCB, saya sering mengucap syukur kepada Allah Swt atas nikmat yang diberikan kepada Kang Abik, penulis novel dan pemeran tokoh Ustadz Mujab dalam film itu, yang telah mengawali sebuah generasi baru perfilman di Indonesia. Membludaknya penonton KCB, merupakan bukti kongkret bahwa masyarakat Indonesia butuh hiburan yang mendidik. Khusus dalam film ini, saya menangkap pesan substantif yaitu sebuah pendidikan keilmuan tentang "fikih cinta" yang dibalut dengan hiburan. Begitulah strategi penyampaian keilmuan zaman kini, tidak mesti anti-pati terhadap modernitas, tetapi justru merubah kegalauan menjadi peluang emas. Dan film KCB membuktikan bahwa kegalauan film yang dapat merusak karakter masyarakat penonton, pada saat yang sama juga dapat menjadi peluang emas sebagai media penyampai keilmuan.
Inilah film 'fikih cinta' pertama yang didalamnya sarat oleh rujukan-rujukan mu'tabar (terpercaya)
Barangkali masih banyak lagi rujukan ilmiah yang digunakan oleh penggagas, namun beberapa buku utamanya seperti tersebut di atas.
Aroma 'fikih cinta' itu terasa sangat menyengat di beberapa adegan dalam film ini, terutama pada saat prosesi khitbah (lamaran) Furqan kepada Anna Althafunnisa di Pondok Pesantren Daarul Quran, yang dihadiri oleh keluarga besar dari kedua belah pihak. Anna, secara tidak diduga menyampaikan beberapa syarat yang harus dipenuhi Furqan, dan syarat itu penentu sah-tidaknya ia menjadi istri kelak. "Pertama," Anna mulai menyebut syarat itu, "Setelah menikah saya harus tinggal di sini.Saya tidak mau tinggal selain di lingkungan pesantren ini." Suasana di ruangan itu hening. Anna melanjutkan, "Kedua, saya mau dinikahi dengan syarat selama saya hidup dan saya masih bisa menunaikan kewajiban saya sebagai isteri Mas Furqan tidak menikah dengan perempuan lain!". Kedua syarat itu ternyata telah dipelajari mendalam oleh Anna dalam kitab Al-Mughni karya Ibnu Quddamah, Juz 7, halaman 93. Bagi saya, syarat ini justru yang kemudian menjadi pertanda akan keraguan Anna menerima lamaran Furqan yang akhirnya berujung pada perpisahan.
Cintak Itu Tak Sempat Bertasbih
Sejak awal film ini, beberapa lokasi pengambilan gambar seperti suasana Masjid Al-Azhar yang terletak di belakang Kampus Universitas Al-Azhar, benar-benar membangungkan kerinduanku yang telah mati tertimbun perjalanan hidup. Tambah lagi, lokasi-lokasi yang menjadi ikon Mesir seperti tiga Pyramida di Giza yang kokoh; Cheops, Chevren dan Mycerinos.
Selain itu, nampak juga Kota Alexandria dengan jalur pantai dan perpustakaan berbentuk matahari, berdiameter 15 meter dengan posisi mengangkang, dua pertiga bagiannya di atas tanah dan sepertiganya lagi di bawah tanah. Terekam juga sungai Nil yang cantik dan eksotik. Ada pula Pasar Khan el-Khalili sebagai pusat suvenir dan pasar tradisional, dan beberapa lokasi lainnya.
Sekali lagi, film ini patut diapresiasi dari sisi substansi yang ingin disampaikan. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan ada ketidakpuasan dari penonton, termasuk saya pribadi, saat menyaksikan film ini, seperti pada karakter Azzam yang kabur. Tidak seperti di novel (lagi-lagi saya harus kembali ke novel, padahal semula kita sepakat tidak boleh membandingkan hehehe), Azzam tampak kental dengan karakter pemuda ulet dengan berpeluh keringat mencari rizki. Di film ini, karakter Azzam justru lebih kental dengan stigma seorang pemuda yang haus akan cinta seorang perempuan, apalagi adegan-adegan berpeluh keringat membuat tempe dan baso sangat sebentar dan tidak terlalu banyak.
Dalam film KCB jilid 1 (yang kisahnya diambil dari novel KCB di jilid 1 dan 10 bab di jilid 2 ini) saya melihat cinta tidak sempat bertasbih, karena dari dua kisah percintaan yang sampai ke jenjang pertunangan (Tiara dan Zul, yang ini bahkan sudah ke pelaminan) dan (Ana dan Furqan), tak satupun yang berdasar pada prinsip saling mencintai, tapi barangkali lebih kepada terpaksa. Mungkin, di film KCB jilid 2 nanti, cinta akan menggemakan tasbihnya.
Akhirnya saya selalu menyadari bahwa komentator berhak menyampaikan pendapat yang menurutnya baik. Ia berhak mengatakan: "Seharusnya si A begini, dan si B begitu...", "Jika si Z tidak begini, pasti bola itu masuk gawang lawan...", "Coba kalau pemain A jadi cadangan dan C jadi pemain pertama, pasti hasilnya lebih bagus..." dan lain sebagainya.
Tetapi, sehebat apapun pendapat komentator, saat diterjunkan ke lapangan, ia belum tentu dapat melakukannya he...he...he.
.
Sebagai oleh-oleh, perkenankan saya mengatakan: "Jika Anda hendak mencari ilmu tentang bercinta, bacalah novel Ketika Cinta Bertasbih jilid satu dan dua. Jika tidak sempat, tontonlah filmnya."
Candita =
Catatan Edi Hudiata
Sabtu, 13
Juni 2009 Pukul 23.20 WIB
Didedikasikan
kepada Iie dan Yuli, thanks for everything.
Edi Hudiata HMT
"Agar Hidup Lebih Bermakna"
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe


No comments:
Post a Comment